Berita

APA DAN MENGAPA UMRAH?

 APA DAN MENGAPA UMRAH?

Umrah secara bahasa memiliki arti meramaikan. Yaitu meramaikan tempat suci Makkah, yang disitu terletak Masjid Haram dan di dalamnya ada Ka’bah. Namun, umrah dalam konteks ibadah tidak sekadar mempunyai arti meramaikan, melainkan lebih dari itu, yaitu kita dituntut agar bisa mengambil manfaat darinya (umrah). Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa aktivitas umrah tersebut merupakan refleksi pengalaman dari hamba-hamba Allah (yaitu Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail) dalam menegakkan kalimatul tauhid. Yang kita ramaikan atau yang kita umrahi adalah tempat-tempat suci yang menurut istilah Al Qur’an disebut min sya’air maqam ‘I-Lah (monument-monumen Allah). Yaitu Ka’bah itu sendiri, maqam Nabi Ibrahim, dan Shafa-Marwah.

Dalam hal ini, Al Qur’an menegaskan, barangsiapa menghormati monumen-monumen Allah itu, maka supaya diketahui bahwa monumen-monumen itu mencerminkan taqwanya hati. Artinya adanya monumen-monumen itu karena proses ketaqwaan.

Ketika umrah, jamaah diwajibkan memakai baju ihram, sebetulnya kita sedang melepaskan atribut-atribut yang biasa menempel pada diri kita, atau melepaskan topeng. Sebab, kita ini dalam menjalani hidup selalu penuh dengan topeng. Atau, kita ini hidup ditolong oleh topeng. Topenglah yang membuat hidup kita menjadi lebih gampang. Misalnya karena kita mempunyai titel akademis, ternyata hidup lebih gampang dan mendapatkan fasilitas lebih.

Dengan pakaian ihram itu, kira-kira kita disuruh kembali kepada yang paling generic, paling universal (umum), yaitu selembar kain tanpa jahitan dengan warna putih. Dengan begitu kita semua menjadi sama. Nah, dalam keadaan sudah terlucutinya topeng-topeng itu-baik topeng yang bersifat fisik fisik dan non fisik. Dalam keadaan kosong itulah kita menghadap Allah dengan mengucapkan labbayk Allahumma labbayk (aku datang ya Allah, kepada-Mu memenuhi panggilanMu). Yang bisa kita lanjutkan dengan ungkapan, “Dan kini aku mohon ampunan.” Jadi, ketika sedang ihram kita harus kita harus melakukan pengakuan dosa besar agar kita benar-benar kembali bersih. Oleh karena itu, kesombongan adalah lawan dari ibadah haji dan umrah. Tentunya juga (kesombongan tersebut) lawan dari semua ibadah-ibadah lainnya. Sebab, tidak dibenarkan kita beribadah kepada Allah dengan kesombongan.

Dengan demikian, kita harus menghayati pakaian ihram itu sebagai sarana melatih diri untuk semua yang dikatakan di atas. Melatih diri untuk melepaskan semua klaim, dan kita membiarkan diri dinilai oleh Allah dengan setulus-tulusnya.

Selain ihram, dalam melakukan ibadah haji dan umrah, kita juga harus melakukan thawaf. Thawaf itu-sebagaimana sudah diterangkan terdahulu-merupakan suatu pernyataan secara fisik bahwa kita ini menyatu dengan seluruh alam. Sebab, kita tahu bahwa seluruh alam raya ini adalah tunduk (islam) kepada Tuhan. Sebagai bagian dari alam kita juga dituntut tunduk di hadapan Sang Khaliq. Dan dalam ‘umrah ini sikap tunduk kita dimunculkan dalam bentuk thawaf, mengitari Ka’bah yang merupakan Bayt-u ‘l-Lah. Demikianlah ajaran islam menuntun makhluk mengakui kebesaran Khaliknya.

Tentang Shafa dan Marwah, yang diantara dua tempat itu kita sa’I (lari-lari kecil), adalah untuk melakukan napak tilas pengalaman seorang manusia yang amat berjasa di dalam menegakkan agama Allah, yaitu Hajar istrinya Nabi Ibrahim. Peristiwa tersebut juga bisa melambangkan rasa kecintaan seorang ibu kepada anaknya, yang kecintaan itu antara lain juga dinyatakan dalam bahasa Arab, yaitu rahm. Nah, tempat bayi itu disebut rahm karena melambangkan kecintaan ibu kepada anak. Dan seluruh pengalaman hidup manusia itu dimulai dengan kecintaan ibu kepada anaknya.

Disarikan dari buku Nurcholish Madjid: Umrah dan Haji, Perjalanan Religius

Tinggalkan Balasan