Raden Qasim atau yang lebih akrab dengan sebutan Sunan Drajat merupakan anak dari Sunan Ampel yang menyebarkan Islam di pesisir pantai utara Lamongan, Jawa Timur.

Dalam cerita tutur disebutkan, perjalanan Sunan Drajat ke pesisir pantai utara Lamongan merupakan sebuah kebetulan belaka. Tadinya, ia diutus oleh sang ayah untuk menyebarkan Islam di pesisir barat Gresik.

Namun, perahu yang ia tumpangi hancur dihantam ombak di tengah laut. Untungnya, ada ikan yang menolongnya hingga selamat dan membawanya mendarat di bibir pantai.

“Dalam peristiwa pecahnya perahu itu, Raden Qasim dituturkan ditolong oleh ikan cucut dan ikan talang sampai mendarat di sebuah tempat yang disebut Jelag, yaitu gundukan tanah yang tinggi dibanding sekitar, yang masuk ke dalam Desa Banjarwati,” tulis Agus Sunyoto dalam buku Atlas Walisongo.

Kedatangan Raden Qasim disambut baik oleh sesepuh kampung yang dikenal dengan sebutan Kyai Mayang Madu dan Mbah Banjar. Di tempat itu pula dirinya menikah dengan Nyai Kemuning yang merupakan putri dari Ki Mayang Madu.

Di tempat ini Sunan Drajat memulai jalan dakwahnya. Tak butuh waktu lama, masyarkat setempat menerima dengan baik dakwah tersebut.

Hal itu bukan tanpa alasan, ada sejumlah jurus yang ia jalankan hingga dakwahnya lancar dan diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Lantas apa saja jurus yang dipakai Sunan Drajat dalam menyebarkan agama Islam di tempat baru itu, berikut ulasannya.

Menciptakan Kesejahteraan

Sunan Drajat adalah salah satu Wali yang berjiwa sosial tinggi. Hal itu tercermin dari jalan dakwah yang ia tempuh, yaitu dengan cara menyejahterakan masyarakat.

Baginya, kesejahteraan merupakan jurus untuk mengambil hati masyarakat. Setelah masyarakat sejahtera secara ekonomi, barulah memberi pemahaman tentang ajaran Islam.

“Sunan Drajat dikenal sebagai penyebar Islam yang berjiwa sosial tinggi dan sangat memerhatikan nasib kaum fakir miskin serta lebih mengutamakan pencapaian kesejahteraan sosial masyarakat,” tulis Agus Sunyoto.

Membangun Mental Masyarakat

Jurus yang dipakai Sunan Drajat selanjutnya adalah dengan cara memperbaiki mental masyarakat setempat, yaitu dengan cara mengajari masyarakat agar bekerja keras dan saling membantu satu sama lain.

Dengan mengajari masyarakat untuk saling menolong, maka akan tercipta kemakmuran dan menghilangkan kemiskinan.

“Ajarannya lebih menekankan pada empati dan etos kerja keras berupa kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas sosial, dan gotong-royong,” tulisnya.

Berdakwah Lewat Musik

Jurus lain yang dipakai Sunan Drajat untuk menyebarkan dakwahnya adalah dengan menggunakan sarana seni. Salah satu jenis kesenian yang ia pilih adalah seni musik.

“Sunan Drajat diketahui menggubah sejumlah tembang tengahan macapat pangkur, yang digunakan menyampaikan ajaran falsafah kehidupan kepada masyarakat,” tulisnya.

Berdakwah Lewat Wayang

Selain lewat seni musik, Sunan Drajat juga menggunakan sarana pertunjukan wayang untuk melancarkan jalan dakwanya. Cara tersebut sama seperti yang telah dilakukan oleh kakaknya, yaitu Sunan Bonang.

“Sunan Drajat juga dikisahkan menyukai pertunjukan wayang dan sesekali memainkan wayang sebagai dalang, sebagaimana Sunan Bonang, kakaknya,” tulisnya.

Sejumlah peninggalan Sunan Drajat yang masih terpelihara sampai sekarang ini salah satunya adalah seperangkat gamelan yang disebut “Singo Mengkok” dan beberapa benda seni lain yang tersimpan di Museum Sunan Drajat.