14 Januari 1944, Majalah Soeara Moeslimin, menerbitkan tulisan KH. Hasyim Asy’ari  berjudul “Keoetamaan Bertjojok Tanam dan Bertani”. Tulisan itu lebih besar membahas posisi petani dalam berbangsa dan bernegara.

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali’l Khutabaa’, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.

“Tak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.” (Bukhari II/30)

hari tani

Menurut Mbah Hasyim, sebagaimana yang beliau nukil dari Muntahaa amaali’l Khutabaa’, petani adalah seorang yang setiap waktu bersedekah. Keuletan menghadapi segala persoalan dunia, jerih payahnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk bangsa dan negara.

“Tak ada seorang Muslim yang menanam tanaman atau mencocokkan tumbuhan-tumbuhan, kemudian tanaman itu dimakan burung atau manusia atau binatang, melainkan dihitung menjadi shadaqah (sedekah) baginya.” (Bukhari II/30)

“Pak Tani adalah gudang kekayaan. Darinya negeri mengeluarkan belanja bagi segala keperluan. Pak Tani itulah penolong negeri apabila keperluan menghendakinya dan di waktu orang-orang mencari pertolongan. Pak Tani itulah pembantu negeri yang boleh dipercaya untuk mengerjakan sekalian keperluan negeri, yaitu pada waktunya orang berbalik punggung (tidak sudi menolong) pada negeri; dan Pak Tani itu menjadi sendi tempat di mana negeri di sandarkan,” tulis Mbah Hasyim.

Petani bagi Mbah Hasyim adalah seorang yang setiap waktu mendapat pahala. Sebagaimana yang beliau nukil dari riwayat Muslim, “tidak ada seorang Muslim menanam tanaman dan tidak pula mencocokkan tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan orang daripadanya, atau binatang atau lainnya, melainkan itu menjadi shadaqah baginya.” (Muslim I/678).

Tetapi nahas, hingga kini petani masih dipandang sebelah mata. Nasib dan kesejahteraannya dianggap fana. Padahal petani juga bekerja untuk  bangsa dan negara.

Hak-hak petani dikebiri. Banyak berita mengabarkan petani diintimidasi. Tanah-tanah mereka setiap waktu bisa saja dicuri oleh para makelar yang tak punya nurani, digantikan pabrik-pabrik menjulang tinggi. Kesejahteraan hidup mereka tidak pernah dipedulikan, yang hanya adalah kalimat-kalimat manis datang dari para pemangku kebijakan negeri, itupun hanya ketika datang Pemilu kembali.

Belum lagi payahnya seorang petani menghadapi tak menentunya iklim, hama, dan seabrek permasalahan teknis pertanian, pemerintah sering menambah beban mereka dengan kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Petani seperti bukan masyarakat yang juga wajib dijaga kesejahteraan hidupnya. Petani hanya dijadikan sumber rupiah untuk negara, tentu saja juga untuk para pejabat yang mendapat gaji darinya.

Benar yang tertulis dalam kitab Itkhafu’Sadah Al-Muttaqien I/52, teraturnya agama atau negara adalah bergantung pada teraturnya dunia. Teraturnya dunia bergantung pada uang. Uang itu terkumpul dari rakyat. Sedangkan teraturnya hidup rakyat adalah bergantung pada sikap pembesar-pembesarnya yang adil.

Jika pembesar-pembesar itu masih rakus, selama itu juga kesejahteraan hanya punya mereka yang berelasi kuat dengan para elit pemangku kebijakan. Petani, entah bagaimana nasibnya.

Selamat Hari Tani Nasional. Jaya di darat, laut dan akhirat!