Selain manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menciptakan setan . Makhluk ini termasuk dalam golongan dari bangsa jin . Namun, setan juga bisa dari bangsa manusia. Jika setan makhluk dari bangsa jin, maka arti setan adalah makhluk yang mempunyai jasad dan dia dari bangsa jin yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari api.

Sedangkan setan dari manusia, maka berarti ini adalah sifat buruk yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an. Di antaranya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:

شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ

“Setan-setan manusia dan jin.” (QS. Al-An’am : 112)

Ustadz Ahmad Zainudin, Lc ketika ceramah dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Risalah Penting Untuk Muslimah, sebuah kitab buah karya Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr Hafidzahullah, di laman jejaring kanal dakwah Rodja menjelaskan, ayat di atas menunjukkan bahwa apabila kata “setan” digandengkan kepada jin, maka dia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari api dan dia kafir menyimpang dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemimpinnya adalah iblis. Sedangkan apabila kata “setan” digandengkan kepada manusia, maka berarti dia adalah sifat yang buruk. Berarti manusia tersebut mempunyai sifat setan .

Dalam keseharian atau saat kita mendengar kata-kata setan yang ‘terkutuk’. Kata “terkutuk” ini disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku mohon perlindungan untuk Maryam Alaihis Salam serta anak keturunannya kepada Engkau Wahai Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. Ali-Imran : 36)

Juga firman Allah:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّـهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Jika engkau membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl : 98)

Setan tidak mau sujud kepada Adam. Maka akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala murka dan Allah menyebutkan dia terkutuk/terlaknat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ ﴿٧٧﴾

“Keluarlah engkau dari surga tersebut. Sesungguhnya engkau adalah makhluk yang terkutuk.” (QS. Shad : 77)

Setan terkutuk karena iblis yang diciptakan oleh Allah dari api tidak mau sujud kepada Adam Alaihis Salam yang diciptakan dari tanah karena kesombongannya. Setan mengatakan:

أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Aku lebih baik darinya. Engkau telah menciptakan aku dari api dan Engkau telah menciptakan dia dari tanah.” (QS. Al-A’raf : 12)

Kepentingan setan di dalam kehidupan ini adalah untuk merusak dalam segala hal. Yaitu merusak agama, merusak makhluk, merusak hubungan, merusah kemesraan, merusak hubungan persaudaraan dan merusak segala apa saja yang baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Iblis berkata: ‘Karena Engkau Ya Allah telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi hamba-hambaMu dari jalan Engkau yang lurus.’” (QS. Al-A’raf : 16)

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Kemudian saya akan mengganggu mereka dari depan, dari belakang, kanan, kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka orang yang pandai bersyukur.” (QS. Al-A’raf : 17)

Ayat ini memberikan keterangan bahwasanya tugas iblis dan setan adalah menyimpangkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, merusak manusia dari segala macam kebaikan. Iblis tidak akan pernah menjadi teman dan pasti menjadi musuh. Karena mereka adalah musuh, maka harus dijadikan musuh, tidak boleh dijadikan teman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh. Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir : 6)

Setan Merusak Hubungan Suami Istri

Menurut Ustadz Ahmad Zainuddin, ilmu sihir pertama yang dipelajari adalah memisahkan suami istri. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat tersebut apa yang dengan sihir tersebut mereka dapat menceraikan antara suami dengan istrinya…” (QS. Al-Baqarah : 102)

Merusak hubungan suami istri ini kadang-kadang bukan hanya dilakukan oleh setan dari bangsa jin, tetapi juga dilakukan oleh setan dari bangsa manusia. Yaitu manusia-manusia yang mempunya sifat buruk terhadap manusia lainnya.

Di antara perbuatan manusia yang mempunyai sifat setan adalah memisahkan antara suami istri, menjadi orang ketiga, sehingga terpisahnya hubungan suami istri, atau bahasa zaman sekarang sering disebut pelakor (perebut laki orang), sehingga terpisah lah hubungan suami istri yang sah karena ada pihak ketiga. Dan ini dosa besar, sebagaimana hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا

“Bukan dari kami seorang yang membuat seorang istri rusak hubungannya dengan suaminya.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban)

Ini adalah peringatan keras agar berhati-hati terhadap langkah-langkah setan di dalam merusak hubungan suami istri. Maka seorang istri yang shalihah memerlukan untuk mempelajari perkara yang penting ini dan dia harus menyadari hakikat ini. Demikian juga suaminya.

Setiap suami dan istri wajib menyadari dengan sebaik-baik bahwa di sana ada musuh yang tersembunyi, dia bisa melihat kalian dan kalian tidak bisa melihatnya. Bahkan musuh tersebut mengalir pada aliran darahmu, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya setan mengalir di dalam tubuh manusia seperti mengalirnya darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama berpendapat bahwa hadis ini adalah sesuai dengan lafal hadis tersebut secara hakikat. Makanya sebagian ulama berdalil dengan hadis ini bahwa jin bisa membuat manusia kesurupan. Hal ini karena dia bisa masuk ke dalam tubuh manusia seperti mengalirnya aliran darah.

Dan ada yang mengatakan makna hadis ini adalah karena saking banyaknya setan menggangu manusia. Sebagaimana manusia tidak pernah tidak ada darah di dalam tubuhnya, maka begitulah gangguan setan kepada manusia. Dia meludahi engkau, dia memberikan bisikan kepadamu, dia menipumu, dia mengecohmu, dia melakukan semua itu tanpa engkau ketahui. Setan menorehkan di hati suami dan istri rasa was-was dan juga memberikan rasa ragu sampai terjadinya permusuhan.

Jadi, termasuk sifat istri yang shalihah adalah berhati-hati dari tipuan setan, berhati-hati dari gangguan setan, berhati-hati dari bisikan setan, dan juga apa saja yang dimasukkan ke dalam perasaan yang menyebabkan seseorang mendengar akan bisikan tersebut kemudian menyebabkan akhirnya rusaklah hubungan, hancurlah rumah tangga.

Berapa banyak dari keluarga terjadi kehancuran yang setelahnya tidak ada kata kembali damai. Kalau seandainya suami dan istri meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari setan dan menjauhi segala macam bisikan-bisikan dan was-was setan ketika terjadi perkara ini, maka tidak akan pernah terjadi perceraian.

Bahkan disebutkan bahwasanya setan membuat sayembara. Siapa yang menang, maka dia akan mendapatkan keutamaan menurut setan. Sayembaranya adalah memisahkan antara suami istri.

Wallahu A’lam